Sistematika Penyajian (Metodologi) tafsir: ijmali, tahlili, maudhu’i dan muqarran

S

Tafsir Ijmali

Menafsirkan al-Qur’an secara global. Singkat, padat dan jelas. Beberapa kitab tafsir bermetode ijmali: Tafsir Jalalin, Tafsir al-Munir (Syekh Nawawi al-Bantani), Terjemah al-Qur’an Depag.

Tafsir Tahlili

Menafsirkan al-Qur’an secara terperinci (asbab an-nuzul, munasabah, siyaq). Sebuah antitesis dari Tafsir Ijmali. Beberapa kitab tafsir bermetode tahlili: Tafsir at-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir.

Tafsir Maudhu’i

Membahas ayat al-Qur’an (yang berkaitan) sesuai dengan tema yang sudah ditentukan sebelumnya.

Beberapa kitab yang menggunakan metode Maudhu’i:

  • Dustur al-Akhlaq fi al-Qur’an (Muhammad Darraz)
  • Ayat al-Hajj fi al-Qur’an (Shalih al-Maghmisi)
  • Manusia Dalam Perspektif al-Qur’an (Anwar Sutoyo)
  • Malaikat dalam al-Qur’an (Quraisy Syihab).

Tafsir Muqarran

Melakukan I’tibar atau mengemukakan beberapa pendapat mufassir (bil ma’tsur & bil ra’yi) tentang suatu ayat.

Metode komparatif adalah seorang mufassir melakukan perbandingan antara ayat yang sama dengan kasus yang berbeda, ayat yang seolah-olah bertentangan dengan hadits, penafsiran beberapa mufassir tentang ayat al-Qur’an.

Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Nasaruddin Baidan

Kelebihan tafsir dengan metode ini adalah membuka wawasan yang sangat luas terhadap pemahaman sebuah ayat sehingga tidak terjadi fanatisme. Kekurangannya adalah tidak cocok untuk orang awam. Karena sangat kompleks.

Tambahkan komentar

Arsip

Ridwan

Kelahiran Denpasar, Bali. Anak bungsu dari 3 bersaudara.
Menyelesaikan pendidikannya sekaligus pengabdiannya di salah satu Lembaga Pendidikan di Indonesia pada tahun 2018.
Dan Qadarullah sekarang diberikan kesempatan untuk kembali belajar di jenjang perkuliahan.

Ikuti Saya