Mufassir, Penyusun Kitab tafsir dan tafsir sahabat

M

Perbedaan Antara Mufassir dan Penyusun Kitab Tafsir

Mufassir belum tentu menyusun kitab tafsir, penyusun kitab tafsir juga belum tentu menafsirkan al-Qur’an. Nabi Muhammad, sahabat, dan tabi’n mereka adalah mufassir akan tetapi tidak menyusun kitab tafsir.

Penyusun kitab tafsir juga tidak bisa dikatakan sebagai mufassir jika menyusun kitab tafsir dengan metode ‘tafsir bi al-ma’tsur’ (mengambil rujukan dari al-Qur’an dan hadits nabi). Jika mereka menggunakan metode ‘tafsir bi ar-ra’yi’ (mengambil rujukan dari ijtihad dan pemikiran sendiri) maka bisa dikatakan sebagai seorang mufassir. Minimal secara bahasa.

Syarat Mufassir

  1. Sehat Aqidah
  2. Terbebas dari Hawa Nafsu
  3. Menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an
  4. Menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah
  5. Merujuk kepada perkataan sahabat Nabi SAW
  6. Merujuk kepada perkataan tabi’in
  7. Menguasai ilmu bahasa arab
  8. Menguasai ilmu yang terkait dengan ilmu tafsir (Asbab an-Nuzul, Naskh-Mansukh dsb)
  9. Pemahaman yang mendalam

Kenapa Nabi Muhammad dan Sahabat tidak menyusun kitab tafsir, padahal mereka adalah mufassir haqiqi?

  1. Pada masa kenabian dan sahabat belum ada percetakan dan penerbitan buku.
  2. Pada masa tersebut teknik penulisan masih sangat sederhana. Dan juga rasul mewanti-wanti agar tidak menuliskan sesuatu selain al-Qur’an. Demi menjaga kesucian al-Qur’an.
  3. Khazanah keilmuan pada masa kenabian sangat bergantung dengan kekuatan akal. Seperti hadits nabi yang baru-baru ini dituliskan (dimulai pada masa kholifah Umar bin Abdul Aziz dan dilanjutkan oleh Syihab az-Zuhri). Sama halnya dengan tafsir.

Menggunakan tafsir sahabat?

Yang bisa menafsirkan al-Qur’an hanya Rasulullah SAW. Karena hanya Rasulullah yang mendapatkan wahyu. Lantas, kenapa kita menggunakan tafsir sahabat?

  1. Sahabat tidak serta merta menafsirkan ayat qur’an sendirian. Sumbernya adalah Nabi SAW.
  2. Ada beberapa sahabat yang diberikan kelebihan ilmu dalam menafsirkan al-Qur’an. Abdullah bin Abbas contohnya.
  3. Para sahabat bergaul sangat dekat dengan nabi. Pada saat itu, nabi tidak menjelaskan tafsir dari wahtu yang turun kepadanya secara kata-perkata. Ada beberapa yang sudah menjadi mafhum dikalangan sahabat.

Tambahkan komentar

Arsip

Ridwan

Kelahiran Denpasar, Bali. Anak bungsu dari 3 bersaudara.
Menyelesaikan pendidikannya sekaligus pengabdiannya di salah satu Lembaga Pendidikan di Indonesia pada tahun 2018.
Dan Qadarullah sekarang diberikan kesempatan untuk kembali belajar di jenjang perkuliahan.

Ikuti Saya