Aturan Medium Horizontal

A

Banyak sekali kegiatan tidak terjadwal yang sepertinya malah memberantaki dinamika kehidupan saya. Seperti membaca penggalan informasi di facebook yang tidak bisa dikatakan ilmiah. Penyajiannya yang kebanyakan (walaupun tidak semua) sak ena’e dewe, hanya sekadar penggalan-penggalan tak berkonsep, semata-mata curahan hati belaka dan bahkan 5 menit kemudian setelah saya membacanya, otak saya ngeblank. Saya lupa, hilang ilmu tersebut entah kemana.

Kemudian juga instagram, twitter dan media sosial lainnya yang  selalu merampas jam kosong saya. Dan ternyata juga malah menukarkannya, juga dengan kekosangan-kekosongan lainnya.

Saya tidak bisa menafikan manfaat dari beberapa platform tersebut. Mulai dari membangun relasi maya, berjumpa dengan kawan lama, menemukan beberapa informasi unik dan menarik, membangun dinamika ekonomi dan bisnis, atau bahkan dengan motivasi dan kutipan hikmah, menggugah hati saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Akan tetapi, menurut hemat saya, manfaat yang termaktub diatas bukanlah sebuah tujuan akhir (goal) dari proses kita menjadi manusia yang cerdas dan berkarakter. Karena, menjadi manusia yang cerdas dan berkarakter tentunya tercipta dari proses panjang dan melelahkan. Yaitu memantik semangat self-understanding dalam menghadapi realitas yang ada dalam kehidupan, dan juga semangat (ghirah) dalam menangguhkan kapasitas kita sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Yang pertama, kita harus membuka mata kita selebar-lebarnya dengan diri kita sendiri. Memahami segala macam kekurangan yang ada dalam diri dan terus berusaha memperbaiknya. Jangan sampai kita tertipu, dengan mudahnya kita membangun relasi maya di media sosial, membuat kita merasa puas dengan keadaan diri,  yang ternyata setelah diselisik lebih dalam lagi, malah masih banyak kekurangannya di sana-sini.

Yang kedua, kita mesti mengerti kondisi rasio, akal, budi dan juga hati. Seyogianya, mengukuhkan hal tersebut bukanlah dengan cara membaca tulisan-tulisan yang kita sendiri pun tidak berniat mencarinya. Hanya sekedar membaca, hanya sekedar wero, wes mari ngono lali maneh. Sehingga menjadikan kita alpa dalam menahbiskannya sebagai penguat keempat hal tersebut.

Sebaiknya, kita membiasakan diri untuk membaca dan mengulik sebuah ilmu berdasarkan lektur dan pestaka yang terkonsep, terstruktur, dan tersistematis adanya. Sehingga kita memiliki kedigdayaan atau penguasaan (malakah) ilmu tersebut secara menyeluruh. Bukan hanya sekedar tau, sekedar menjadi ma’lumat, sekedar wero, wes mari ngono lali maneh.

Komitmen terhadap suatu kebaikan memanglah sulit, sungguh tidak semudah mengingkarinya. Akan tetapi ketika konsistensi berkomitmen dalam kebaikan sudah kita laksanakan, maka hasil positif pun pasti akan mendekat kepada kita.

Analoginya seperti anak kecil yang meronta-ronta ingin digendong oleh ibunya, dia selalu ingin dekat, dan berusaha agar senantiasa dikuasai oleh orang yang perangainya baik hati. Dan menyiratkan tangisan sebagai tanda penolakan terhadap orang yang sekiranya memiliki perangai buruk yang akan mencelakainya. Kita adalah sang penggendong lengkap dengan perangai-perangainya. Sedangkan anak kecil tersebut adalah kebaikan yang mencari-cari siapa yang akan menggendongnya.

Maka sama halnya dengan manifestasi kebaikan yang ada karena komitmen tersebut, pasti datang dengan sendirinya. Dan membuat diri kita menjadi lebih baik lagi dari hari sebelumnya. Insyaallah.

Tambahkan komentar

Arsip

Ridwan

Kelahiran Denpasar, Bali. Anak bungsu dari 3 bersaudara.
Menyelesaikan pendidikannya sekaligus pengabdiannya di salah satu Lembaga Pendidikan di Indonesia pada tahun 2018.
Dan Qadarullah sekarang diberikan kesempatan untuk kembali belajar di jenjang perkuliahan.

Ikuti Saya