Kesungguhan Dalam Belajar

K

Mujahadah

Seorang thalibul ilmi wajib hukumnya untuk memiliki kesungguhan dalam belajar, seperti apa yang diisyaratkan oleh sebuah ayat Al – Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Q.S Al-Ankabut :29]

Ada sebuah syair arab juga mengatakan:

من طلب شيئا وجدّ وجد # و من قرع الباب ولجّ ولج

“Barangsiapa yang mencari sesuatu dengan bersungguh sungguh, maka dapatlah ia dan barang siapa yang mengetok pintu dengan giat, maka dapatlah apa yang ia inginkan -pen”

Kesungguhan dalam mencari ilmu adalah kunci sebuah pemahaman, bersungguh-sungguhnya kita belajar ushul dan furu’ sebuah keilmuan tentunya bertujuan agar malakah ilmu pada bidang tersebut menjadi kokoh.

Dan permasalahan thalibul ilmi pada akhir dekade ini, ialah, mereka memiliki keinginan yang sangat kuat untuk memiliki penguasaan terhadap sebuah ilmu, akan tetapi tidak siap berjuang dan bersungguh-sungguh dalam menikmati santapan ushul dan furu’ ilmu tersebut.

Seperti apa yang dikatakan penyair arab:

بقدر ما تتعنى تنالى ما تتمنى

“Seperti apa yang kamu usahakan (dengan sungguh-sungguh), maka itulah yang kamu dapat”

Syair diatas semakin mempertegas bahwa kadar usaha kita dalam mencapai sesuatu, merupakan tolak ukur dari bagaimana hasil dari sesuatu yang ingin kita capai, jika pada prosesnya penuh dengan perjuangan, maka hasilnya pun sering kali juga penuh dengan senyuman kebahagiaan.

Mental Kutu Loncat

Kemudian, timbulah pertanyaan, bagaimana seharusnya sikap kita sebagai thalibul ilmi, agar proses yang kita jalani dalam membentuk malakah keilmuan dalam diri, bisa dikatakan sebagai proses belajar yang termasuk dalam koridor bersungguh-sungguh ?

Abu Tayyib mengatakan:

و لم أرى في عيوب الناس عيبا # كنقص القادرين على التمام

“Saya belum pernah menganggap aib didalam diri manusia sebagai aib, (lain halnya) seperti tidak menyelesaikannya sesuatu yang seharusnya bisa dia selesaikan -pen”

Betapa meruginya orang orang yang sibuk menghabiskan waktunya untuk hanya sekedar menjadi kutu loncat dalam mendalami bidang-bidang keilmuan, baru mempelajari bahasa arab, kemudian jumawa, akhirnya berganti haluan menjadi belajar fiqh, kemudian merasa bosan, akhirnya loncat menuju bidang hadits dan tafsir.

Ketahuilah, penyakit mental kutu loncat yang ada pada seorang thalibul ilmi, seperti yang dikatakan oleh Abu Tayyib adalah sebuah aib, dan tanda tanda orang yang memiliki penyakit ini adalah naqsi-l-qaadirin ‘ala-t-tamaami , yaitu tidak menyelesaikan sesuatu yang seharusnya bisa dia selesaikan.

Malam yang Panjang

Kemudian, setelah menghilangkan mental kutu loncat, hal apalagi yang menjadi aspek penting dalam mewujudkan esensi bersungguh-sungguh dalam proses menuntut ilmu kita?

Sebuah penyair arab mengatakan:

بقدر الكد تكتسب المعالي # و من طلب العلا سَهَرَ الليالي

“Dengan segalam macam upaya kerja keras, maka akan didapatkanlah sebuah kemuliaan, dan barang siapa yang mencari kemulian, maka dihabiskannyalah malam-malamnya (dengan bersungguh-sungguh meraih apa yang diinginkan) -pen”

Begadang untuk ngomong ngalur-ngidul dan ghibah, juga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya memang tiada gunanya, bahkan hal seperti itu bisa saja malah menambah dosa kita, jika memang tidak ada kepentingan, lebih baik malam tersebut digunakan untuk mengistirahatkan diri, agar pada sepertiga malam kita bisa melakukan ibadah seperti tahajjud, membaca qur’an dsb.

Akan tetapi, lain halnya ketika momen begadang tersebut didasari oleh kegiatan kita dalam menuntut ilmu, seperti menganalisa dan memahami ushul dan furu’ sebuah ilmu, memecahkan sebuah permasalahan dengan mencarikan solusinya, dan lain sebagainya. Maka hal tersebut dibolehkan, bahkan dianjurkan.

Mudah-mudahan dengan apa yang tadi telah kita bahas diatas, dapat menjadi muhasabah untuk diri kita sendiri, apakah kita sudah benar benar bermujahadah dalam menuntut ilmu atau masih berleha-leha.

Dan yang terkahir, semoga kita juga termasuk orang-orang yang bermujahadah dalam menuntut ilmu, dan bukan termasuk orang yang berleha-leha didalamnya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

2 komentar

  • An outstanding share! I have just forwarded this onto a colleague who
    was doing a little homework on this. And he in fact bought
    me dinner because I found it for him… lol.
    So let me reword this…. Thanks for the meal!! But yeah,
    thanks for spending time to discuss this subject here on your site.
    sviluppoperleuropa.it

Arsip

Ridwan

Kelahiran Denpasar, Bali. Anak bungsu dari 3 bersaudara.
Menyelesaikan pendidikannya sekaligus pengabdiannya di salah satu Lembaga Pendidikan di Indonesia pada tahun 2018.
Dan Qadarullah sekarang diberikan kesempatan untuk kembali belajar di jenjang perkuliahan.

Ikuti Saya