Ilmu Wajib, Memilih Guru & Teman Belajar

I

Ilmu yang Wajib

Imam Zarnuji mengatakan dalam kitabnya Ta’lim Muta’allim Tariqu-t-ta’allum, bahwasanya ilmu yang sebaiknya dipilih adalah ilmu hal, dan juga ilmu ilmu lainnya yang mendukung kesempurnaan ilmu hal tersebut.

Contohnya seperti ilmu tauhid dan fiqh, ilmu tersebut menjadi modal utama dalam melakukan ibadah shalat dan puasa. Kemudian juga ilmu yang dapat memberikan mal (harta) kepada sang penuntut ilmu, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tentunya juga mal tersebut juga menjadi modal utama dalam menunaikan ibadah zakat.

Sebuah kaidah fiqh mengatakan: ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا و ما يتوسل به إلى إقامة الواجب فهو واجبا

“ِApa yang menjadi wasilah untuk menegakkan sebuah amalan yang fardhu, maka hukum melakukan wasilah tersebut menjadi fardhu -pen”

Atau mungkin sebuah kaidah fiqh yang lebih familiar ditelinga kita: ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Sesuatu yang menjadikan hal yang wajib menjadi tidak sempurna kecuali karena keberadaannya, maka keberadaan hal tersebut menjadi wajib adanya”

Maka dapat diambil dari kesimpulan dari dua kaidah diatas, barangsiapa yang ingin melakukan ibadah fardhu ain (wajib bagi setiap muslim) seperti shalat dan puasa, maka hukum belajar ilmu fiqh sholat dan puasa juga menjadi fardhu ain, terlepas dari orang yang belajar tersebut masih melakukan taqlid (mengikuti ulama) ataupun sudah memenuhi persyaratan untuk melakukan ijtihad (menentukan sebuah hukum dengan menganalisa dalil-dalil yang ada).

Memilih Guru yang Baik

Kemudian dalam hal mencari guru, Imam Abu Hanifah memberikan sebuah gambaran yang cukup jelas dalam menentukan aspek penting apa saja yang harus dimiliki olelh seorang guru, beliau mengatakan: وجدته شيخا وقورا حليما صبورا و قال تبثُّ عند حماد بن أبي سليمان فنبتُّ

“ٍSaya menemukannya, seorang guru yang tenang, murah hati dan sabar” kemudian Imam Abu Hanifah berkata “Saya menetapkan hati (memilihnya menjadi guru) pada Hammad bin Abi Sulaiman, maka saya menjadi pribadi yang berkembang (lebih baik dari sebelumnya)”

Aspek penting yang digambarkan Imam Abu Hanifah tentang seorang guru yang baik adalah yang memilik sifat waqur (berwibawa), halim (murah hati) dan sabr (sabar).

Kemudian Imam Zarnuji juga menyebutkan bahwa aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang guru yang akan kita pilih untuk berguru kepadanya adalah a’lam (pakar), awra (bertaqwa) dan asan (senior).

Bahkan Hakim As-Samarqandy memberikan nasihat kepada thalibul ilmi yang mendatangi suatu daerah atau tempat untuk belajar, agar berdiam diri terlebih dahulu selama dua bulan untuk mengobservasi dan memilih seorang guru yang memenuhi kriteria dan cocok untuk dirinya.

Agar guru yang didapatkan bisa benar-benar memberikan ilmu yang baik, dan kita sebagai thalibul ilmi bisa maksimal dalam memahami apa yang disampaikan dan diajarkan oleh guru tersebut.

Antarah bin Syadad, seorang penyair dari negeri Arab mengatakan: الشجاعة صبر الساعة

“Keberanian adalah tentang bersabar (dalam kesulitan)”

Disarankan untuk setiap thalibul ilmi agar meneguhkan pendiriannya dan bersabar kepada seorang guru, juga kepada sebuah kitab yang ia pelajari agar tidak mudah meninggalkannya.

Sama halnya juga dalam fan ilmi (bidang keilmuan), jangan sampai seorang thalibul ilmi sibuk berpindah dari satu bidang ke bidang lainnya sebelum menyempurnakan salah satunya.

Dikarenakan, hal tersebut dapat membingungkan pikiran kita dan membuat hati ini sibuk dengan kesia-siaan, juga membuat waktu menjadi terbuang percuma.

Memilih Teman yang Baik

Dalam memilih teman pun kita harus memperhatikan beberapa aspek yang ada dalam diri mereka, menurut Imam Zarnuji, ada empat hal yang sebaiknya ada dalam diri mereka, yaitu mujid (punya daya juang), wara (bertaqwa), sohib tab’u-l-mustaqim (punya kepribadian baik) dan juga mutafahhim (cerdas).

Dan disarankan juga agar tidak berteman (dengan sangat dekat) dengan orang yang memiliki sifat kaslan (pemalas), mu’athal (rusak), muktsar (banyak bicara), mufsid (merukas) dan fitan (menghasut).

Ada sebuah syair yang dibacakan seseorang kepada Imam Zarnuji: لا تصحب الكسلان في حالته # كم صالح بفساد آخر يُفسَد

“Janganlah engkau berteman dengan pemalas, berpa banyak orang baik yang berteman dengan orang yang rusak, menjadi rusak pula kebaikannya -pen”

Hal yang tidak kalah penting adalah, bukan berarti kita menjauhi orang tersebut dan menutup pintu pertemanan secara mutlak, kalau seperti ini adanya, apa bedanya kita dengan orang sombong yang merendahkan dan meremehkan orang lain?

Tugas kita adalah untuk mengayomi mereka, memberikan pengertian-pengertian bahawasanya apa yang dilakukannya adalah sifat yang tidak baik, tentunya dengan cara hikmah dan juga mauidzatul-l-hasanah (nasihat yang baik).

Maka dari itu, semoga dengan mengetahui apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih guru dan juga teman dalam menuntut ilmu ini, menjadikan kegiatan menuntut ilmu kita lebih berkah dan lebih baik lagi kedepannya, in syaa Allah.

Tambahkan komentar

Arsip

Ridwan

Kelahiran Denpasar, Bali. Anak bungsu dari 3 bersaudara.
Menyelesaikan pendidikannya sekaligus pengabdiannya di salah satu Lembaga Pendidikan di Indonesia pada tahun 2018.
Dan Qadarullah sekarang diberikan kesempatan untuk kembali belajar di jenjang perkuliahan.

Ikuti Saya